Assalammualaikum.Wr.Wb
Hai apa kabar sahabat Keluarga Nawra, semoga sehat semua yah. Tetap menjaga protokol kesehatan dengan baik dan tertib. Selamat lebaran idul fitri 1442 H, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya.
Nah, bagaimana aktivitas di rumah, sudah kembali normalkah setelah liburan saat puasa hingga libur lebaran. Apalagi aktivitas anak-anak setelah liburan tentu saja sedikit-banyaknya mengalami perubahan yah. Terutama aktivitas belajar. Meski belajar daring, kegiatan belajar tetap harus dikondisikan dan tetap semangat.
Menjaga agar aktivitas belajar anak tetap berjalan lancer setelah liburan, tentulah bukan hal yang mudah bagi sebagian anak. Orang tua kadang dibuat pusing juga untuk mengatur ulang kembali aktivitas anak untuk belajar setelah liburan.
Namun, sebagai orang tua. Kita tidak boleh lelah apalagi menyerah memotivasi anak untuk tetap semangat belajar. Kapan saja dan dimana saja.
Pengalaman Kami Menjaga Ritme Anak Belajar
Sama halnya dengan para orang tua lainnya, saya juga tak kenal menyerah untuk memotivasi anak agar tetap semangat belajar. Menggunakan berbagai cara. Bahkan pernah juga emosi, hahaha. Apalagi kepada anak pertama. Maklum, baru belajar dan belum menemukan formulanya yang cocok.
Keluarga Nawra mempunya tiga orang anak, semuanya perempuan. Anak pertama usia 14 tahun, mau melanjutkan ke jenjang SLTA, anak kedua kelas dua Sekolah Dasar,anak ketiga lima tahun, baru akan masuk TK B.
Berdasarkan pengalaman dari anak pertama, hal yang membuat ritme belajar berubah salah satunya adalah kurang berinteraksi dengan buku. Biasanya kalo libur sekolah, otomatis interaksi dengan buku juga berkurang bahkan ditinggalkan sama sekali.
Jadi poin utamanya adalah meski libur sekolah interaksi anak dengan buku tidak boleh libur. Aktivitas dengan buku harus terus diupayakan berjalan terus, meski hanya dalam hitungan menit. Interaksi dengan buku ini tidak harus buku pelajaran sekolah. Buku apa saja asal berbentuk hardcopy. Buku yang sebenarnya.
Cara Kami Menjaga Interaksi Baik Antara Anak dan Buku
Beberapa cara sudah kami terapkan dengan anak, ada plus minusnya. Ada yang saya ujicobakan selama beberapa hari, saya evaluasi tidak efektif. Saya ganti metodenya. Lalu dievalusi kembali. Kondisi ini juga memantik kreativitas kami juga selaku orang tua.
Sampai akhirnya, cara ini yang kami terapkan di rumah dalam menjaga interaksi baik antara anak dan buku. Lumayan efektif dan dilakukan hingga sekarang. Di rumah kami sehari-hari. Anak-anak pun menikmatinya dengan baik, tanpa ada rasa beban.
Kami membuat aturan setelah shalat Magrib, dilanjutkan dengan membaca Al-Quran. Setelah itu membaca buku. Pada awalnya, anak-anak meminta waktu membaca buku sebelum tidur. Membaca bukunya sambal tiduran.
Awal aturan ini dibuat, saya memberikan keleluasaan soal waktu membaca buku ini. Mau sebellum tidur, mau sambil tiduran, silakan saja. Asal tujuan tercapai yah, membaca buku.
Untuk anak pertama, diberi target membaca minimal 15-30 menit atau setengah jam. Untuk anak kedua membaca satu buku cerita, satu judul buku atau satu judul cerita jika buku itu kumpulan cerita. Sejenis kumpulan cerpen anak.
Anak ketiga karena belum lancar membaca huruf abjad, jadi ia membaca gambar. Membaca gambar itu begini, anak diminta untuk menerangkan kembali gambar yang dilihatnya pada buku yang dibacanya. Hal ini sesuai dengan daya pikir, imajinasi anaknya masing-masing.
Bagian ini seru juga, selain membantu motorik baca anak, melafalkan huruf dan kata dengan benar. Hal ini juga bisa melatih anak menghasilkan dan mengucapkan kosakata baru.
Jadi setiap hari, anak diminta untuk tetap membaca buku. Buku yang dibaca bukan buka pelajaran sekolah. Kalo akhir pecan, biasanya saya yang membacakan buku buat mereka atau mendongeng terutama untuk anak kedua dan ketiga. Sebab, jika akhir pekan mereka diperbolehkan tidur di kamar kami.
Akhirnya aktivitas membaca di rumah kami menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi kebutuhan. Anak-anak sudah terpola bahkan menagih untuk baca buku. Termasuk kebutuhan untuk membeli buku baru, hehehe.
Anak-anak senang jika diberi hadiah atau dibelikan buku baru, sebab sekarang tidak lagi minimal satu buku atau satu cerita. Kadang dalam satu waktu mereka bisa membaca 2-4 buku atau judul buku. Meski ada buku yang diulang-ulang terus karena mereka menyukai isi cerita bukunya.
Blogger Perempuan Lets Read Online Gathering
Memang satu hal yang juga saya jaga di rumah, saya dan suami juga termasuk yang interaksinya juga baik dengan buku. Jadi anak juga meniru dan melihat kebiasaan kami. Terutama pada saat mereka sedang membaca buku, kami juga mneyimak, mendampingi , mengawasi mereka. Bukan malah bermsin handphone, hehehe.
Jadi, ketika Blogger Perempuan mengajak zoom meeting dengan Lets Read yang membahas soal buku. Saya sangat senang sekali dan antusias.
Blogger Perempuan Lets Read Online Gathering kali ini mengangkat tema Buku : Bekal Anak Bertumbuh (live on zoom) yang dilaksanakan pada 11 Mei 2021 Yang akan menghadirkan tim dari The Asia Foundation Indonesia. Elsa Agustin. Yang akan memperkenalkan tentang Lets Read dan The Asia Foundation serta Ibu Roosie Setiawan founder Reading Bugs. Ibu Roosie juga seorang penulis dan Penggagas Komunitas Read Aload
Mengenal Lets Read Indoneisa
Let's Read! adalah perpustakaan digital bukuceritaanak persembahan komunitas literasi dan The Asia Foundation.
Let's Read! diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017.
Misi:
Membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini melalui:
1. Digitalisasi #ceritabergambar
2. Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal; dan
3. Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.
Ratusan koleksi ceritabergambar Let's Read! dapat dibaca, diunduh, disebarkan, dan diterjemahkan secara bebas melalui situs maupun aplikasi Android: bit.ly/letsreadapp.
Untuk info koleksi terbaru serta diskusi dan pelatihan terkait literasi, sila ikuti media sosial Let's Read! di Instagram dan Facebook dengan nama akun: @letsread.indonesia.
Jln. Barito II No. 41, Kebayoran Baru
Kota Administrasi Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Telepon +622172786557
Website https://bit.ly/LetsReadID
Komunitas Read Aload
Di Indonesia perkembangan Read Aloud tentu tak bisa lepas dari sosok ini. Roosie Setiawan (63), kini dikenal sebagai pakar read aloud. Ia adalah penerjemah buku 'The Read-Aloud Handbook' karya Jim Trelease, pendiri komunitas Reading Bugs, Satgas Literasi Sekolah dan juga menulis buku 'Membacakan Nyaring'.
Ketika membaca buku itu, seperti membaca pengalamannya sendiri membacakan buku pada anak-anaknya. "Awalnya, mau mendongeng untuk kedua anak saya. Tetapi karena saya ibu bekerja, dongeng yang saya dongengkan kemarin, hari ini saya sudah lupa dan anak-anak saya protes. Akhirnya saya memutuskan tidak mendongeng tetapi membeli buku dan membacakannya.
Tahapan Read Aloud
Sebelum memulai read aloud para orang tua harus memastikan buku yang akan dibacakan sesuai dengan tahap kembang usia anak. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena ini akan mempengaruhi ketertarikan anak terhadap buku dan juga keoptimalan informasi yang bisa terserap.
Setelah menentukan buku yang dibaca, pelajari isinya sebelum menyampaikannya kepada anak. Berlatihlah dengan suara, intonasi, ekspresi, dan gerakan tubuh yang bisa menarik perhatian anak.
Saat membaca nyaring mulailah dengan percakapan pembuka dan tunjukkan kepada anak tentang buku cerita yang akan dibaca. Berikan informasi singkat mengenai sampul buku yang berisi gambar sampul, pengarang, dan juga ilustrator buku. Setelah itu mulai dengan menyusuri ilustrasi dan membaca nyaring dengan semenarik mungkin.
Agar anak tetap fokus pada cerita, buatlah interaksi singkat di tengah-tengah kegiatan membacakan nyaring. Buatlah anak-anak bertanya tentang isi cerita. Seandainya anak tidak mengajukan pertanyaan, berikanlah pertanyaan kepada mereka dan bantu mereka untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan mereka tentang cerita yang sudah dibacakan atau menceritakan kembali isi cerita yang sudah dibacakan.
Ada tiga tahapan posisi yang sebaiknya dipraktekkan para orangtua yang membacakan cerita untuk anaknya. Pertama, posisi memangku si anak. Ini berlaku untuk anak yang belum mampu duduk sendiri. "Usahakan buku juga terlihat oleh si anak dan ketika orangtua mengucapkan kata yang ada di buku, ia wajib menunjuk kata-kata yang diucapkan. Ini supaya anak tahu bentuk kata yang diucapkan ayah atau ibunya."
Kedua, anak masih dipangku orangtua, namun dibiarkan memegang buku yang sedang dibacakan tersebut. Tahap ketiga, saat anak sudah beranjak besar, "Biarkan dia duduk di samping orangtuanya."
Menurut Rossie, posisi duduk menempel seperti itu (skin to skin), dapat mendekatkan hubungan anak dan orangtua menjadi lebih intim.
Selain itu, "Secara emosional, si anak juga akan merasa dirinya spesial karena orangtuanya mau membacakan buku untuknya." Rossie yakin, read aloud sangat mungkin dilakukan siapa saja.
"Modalnya, toh, hanya orangtua, anak, dan buku." Selain sederhana dan gratis, read aloud juga sangat efektif karena setiap orang bisa langsung merasakan hasilnya. "Pada akhirnya, orangtua akan sangat bersyukur karena memiliki peranan besar dalam kesuksesan si anak."




























